PEMIRA POLTEKBA 2022 : MENANGNYA KOTAK KOSONG MELAHIRKAN SEJARAH DI PEMIRA POLTEKBA
Seputar Kampus
PEMIRA POLTEKBA 2022 : MENANGNYA KOTAK KOSONG MELAHIRKAN SEJARAH DI PEMIRA POLTEKBA
Pemungutan Suara kembali dilakukan pada hari Kamis (09/12) di Gedung Terpadu Lantai 4 POLTEKBA yang dimulai pada pukul 09.00 WITA sampai dengan pukul 17.00 WITA.
Selanjutnya Perhitungan Suara dimulai di tempat yang sama pada pukul 20.00 sampai dengan pukul 23.15 yang membuahkan hasil Kotak Kosong kembali menjadi pemenang dengan 339 suara mengalahkan Pasangan Calon Kabinet Duta Naraya dengan 312 Suara, sementara untuk suara yang tidak sah berjumlah 18 suara. Jumlah mahasiswa yang menyoblos sebesar 669 mahasiswa dan yang memilih untuk golongan putih sebesar 791 mahasiswa.
Keluarnya Kotak Kosong menjadi pemenang untuk yang kedua kalinya, menimbulkan berbagai pertanyaan mengenai bagaimana nasib dari BEM KM-POLTEKBA kedepannya, Ketua Dewan Kehormatan Penyelanggaran Pemilu (DKPP) 2022 Sifra El Gracia mengatakan akan ada koordinasi terlebih dahulu antara DKPP, KPU, dan MPM KM-POLTEKBA sesuai dengan Petunjuk Teknis Pasal 5 Ayat 5 yang berbunyi “Apabila kotak kosong menang 2 (dua) kali berturut-turut dalam melawan Peserta Pemilu Raya, maka KPU berkoordinasi dengan DKPP dan MPM untuk menentukan langkah selanjutnya” dan untuk penetapan dari koordinasi tersebut dilakukan selambat-lambatnya 2x24 jam setelah pemilihan.
“Untuk keputusan yang keluar pun kami tidak bilang ini bakalan pro tapi nda juga kontra, jadi pasti dua duanya itu bakalan ada dari keputusan yang diambil antara DKPP, KPU, dan MPM, yah mungkin bisa menunggu aja dari ketetapan yang keluar” ujar Sifra.
Sifra menegaskan adanya kotak kosong merupakan evaluasi dari kekurangan sistem PEMIRA POLTEKBA tahun sebelumnya, yang mana ketika adanya 1 Pasangan Calon saja maka keputusan Aklamasi lah yang diambil, Sifra mengatakan Pemilu Raya bukanlah sekedar memilih seorang pemimpin namun menciptakan suasana demokrasi.
“Pemimpin (Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa) yang dipilih itu memang mendapat suara dari rakyat (mahasiswa) yang memilih, jadi bukan sekedar dia mencalonkan, dia uji publik, setelah itu dia terpilih, bisa dibilang itu suara masyarakat (mahasiswa) dibungkam tanpa memberikan suara itu, maksud daripada tahun ini tuh memberikan pelajaran demokrasi, suara mahasiswa itu bisa disuarakan, baik itu mahasiswa organisasi maupun mahasiswa biasa, hasil akhirnya itu berupa manusia dan lain sebagainya itu tergantung dari pilihan kita kembali” ujarnya. Menanggapi kemenangan dari kotak kosong untuk yang kedua kalinya, Ketua KPU POLTEKBA 2022 Ratih Woro Pertiwi berasumsi bahwa hal tersebut dikarenakan kurangnya Pasangan Calon dalam mem-branding diri dan menarik kepercayaan para mahasiwa POLTEKBA.
“Toh juga kemaren sudah diadakan namanya Uji Publik, sebagian mahasiswa percaya kepada paslon, sebagiannya lagi kurang puas dengan jawaban dari paslon” ujar Ratih.
Menurut Rizky Williansyah selaku Formatur HMJ Teknik Mesin 2022 inilah bentuk demokrasi yang mana setiap mahasiswa/i berhak memilih siapa pemimpinnya di POLTEKBA, menurutnya dengan hanya adanya 1 Pasangan Calon saja merupakan evaluasi bagi mahasiswa/i POLTEKBA dalam berkolaborasi untuk menciptakan regenerasi yang nantinya akan siap untuk menjadi eksekutor tertinggi di POLTEKBA.
Anjani Saputri selaku Formatur HMJ Akuntansi 2022 menyayangkan atas tercetaknya sejarah baru ini, karena menurutnya tidak ada regenerasi BEM KM-POLTEKBA di periode selanjutnya.
Menurut Ega Nurfadhilatil Ra'uf selaku Formatur HMJ Teknik Elektro 2022, terdapat beberapa faktor kelebihan dan kekurangan dari mahasiswa POLTEKBA dan Pasangan Calon,
“Kelebihannya yaitu mulai banyak mahasiswa poltekba yang berfikir kritis dan sadar pentingnya peran Presiden Mahasiswa, serta kekurangannya yaitu minat mahasiswa untuk mencoblos karena ada beberapa mahasiswa yang kurang faham tentang apa itu aklamasi sehingga mahasiswa berfikir ketika ada 1 paslon maka paslon itulah yang menjadi Pres dan WaPres” ujar Ega.
“Untuk CaPresma CaWaPresma menurut saya melihat visi dan misi serta plan kedepannya tidak terlalu buruk, yang menjadi permasalahan mungkin pada uji publik dan ada beberapa mahasiswa yang bertanya di luar dari topik pembahasan sehingga image capresma dan cawapresma menjadi tampak buruk di depan mahasiswa yang lain dan mempengaruhi mahasiswa di sekitarnya untuk mencoblos kotak kosong” lanjutnya.
Menurut seorang mahasiswa jurusan Teknik Mesin POLTEKBA dengan inisial “Rama”, menangnya kotak kosong merupakan hal yang lumrah karena inilah bentuk sistem politik yang menerapkan konsep demokrasi, dimana konsep ini menjunjung tinggi kebebasan hak berpendapat dan memilih.
“Memang jika kita bilang sedih, sangat sedih, berarti ditahun ini telah terjadi yang namanya degradasi kepemimpinan, namun kita sudah berhasil melaksanakan yang namanya PEMIRA, yang mana disitu terdapat jelas sistem demokrasi sudah dilaksanakan dengan menangnya kotak kosong” ujar Rama.
Rama berpesan kepada mahasiswa/i POLTEKBA dengan hadirnya kotak kosong merupakan terobosan baru, karena menurutnya selama ini BEM KM-POLTEKBA dipimpin oleh Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa dan belum pernah merasakan kekosongan jabatan.
“Yang bisa kita ambil positifnya adalah bagaimana cara kita mencari jalan baru dalam problematika ini, sedih karena tidak adanya regenerasi kepemimpinan baru tapi mau bagaimana lagi karena kepercayaan dari mahasiswa lebih percaya kalau Badan Eksekutif Mahasiswa itu dibekukan” lanjut Rama.
“Maka dari itu buat temen temen semua, terima kasih yang sudah menyumbangkan suaranya, terima kasih yang sudah berpendapat, kalian semua luar biasa dan tetap semangat, ingat sukses hanya soal waktu, nikmati prosesnya dan ikuti arusnya” tutup Rama.
Penulis Redaksi : Azzan Farizi
Editor : Uzlifah Khalifahturrahma

Komentar
Posting Komentar